Bangsa
Indonesia memilki beragam budaya dan adat istiadat disetiap daerahnya. Bahkan
hingga saat ini masih banyak harta pusaka atau naskah-naskah zaman kuno yang
tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Ada pepatah mengatakan “bangsa
yang besar adalah bangsa yang mau menghargai budayanya”. Tapi apakah kita bisa menghargai budaya jika kita tidak mengerti dengan budaya itu sendiri ? Lantas sebagai masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa kita perlu untuk mengerti dan memahami budaya bangsa kita. Selain itu kita juga perlu untuk memperkenalkan atau menyebarkan budaya bangsa kita agar dikenal seluruh penjuru dunia. Karena kekayaan budaya yang beragam merupakan ciri khas dan identitas bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain.
Pada hari senin, 21 Oktober 2019 saya bersama teman-teman memulai petualangan untuk memburu naskah kuno. Kami mulai berkumpul sekitar pukul 16.49 WITA di depan gedung kuliah bersama (GKB). Tujuan kami kali ini untuk mencari rumah kediaman Mamiq Udin yang katanya salah satu teman saya beliau memiliki naskah kuno dan benda pusaka. Setelah bertanya ke seorang pedagang jeruk peras yang mengenal Mamiq Udin kami pun berangkat menuju lokasi alamat yang diberikan. Sekitar 20 menit kami akhirnya tiba di kediaman Mamiq Udin tepatnya di Di desa Terong Tawah, Kec. Labuapi. Sesampainya disana kami memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangan kami untuk mencari dan mempelajari naskah-naskah kuno. Mamiq Udin menyambut kami dengan sangat ramah dan senang karena masih ada anak muda yang mau mempelajari budaya.
Mamiq Udin atau Erka Samsudin merupakan seorang pembayun atau penembang yang cukup terkenal. Kita diberikan kesempatan untuk melihat kitab naskah-naskah kuno yang dimilikinya. Mamiq Udin juga langsung mencontohkan kepada kita bagaimana cara membaca naskah kuno tersebut. Beliau membacakan kami naskah “serat centini” dengan nada dan penghayatan yang sangat dalam sehingga membuat kami menyimaknya dengan khusyuk. Tak lupa pula beliau memberitahu kami arti perbait dari naskah yang dibacanya tersebut sehingga kami bisa mengerti naskah yang dibacakan. Serat centini ini berisi nasehat dan pelajaran tentang adab/akhlakul karimah, dan filosofi kehidupan menurut agama islam. Nasehat itu juga langsung ditujukan kepada kami selaku anak muda yang sedang mencari ilmu dan baru memulai menghadapi kerasnya kehidupan. Mamiq Udin membacakan tiga siren dari serat centini tersebut dan kemudian menjelaskan asal usul dan makna yang terkandung dari naskah yang dibacanya itu. Naskah tersebut ditulis dengan bahasa jawa kuno dan erat kaitannya dengan penyebaran ajaran Islam di pulau Lombok. Mamiq Udin hanya menjelaskan 1 kitab yang isinya nasehat atau pelajaran tentang adab, sopan santun, atau akhlakul karimah. Sedangkan kitab yang satunya lagi berisi tentang ilmu-ilmu tasawuf.
Setelah selesai membacakan tiga siren dari serat centini Mamiq Udin kemudian menunjukkan kepada kami dua keris yang merupakan benda pusaka miliknya. Kitab naskah-naskah kuno dan benda pusaka milik Mamiq Udin ini berasal dari benda pusaka kerajaan bayan zaman dulu yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Mamiq Udin sendiri keturunan dalang dan kakek buyutnya keturunan asli sasak yang memiliki berbagai benda pusaka dan naskah-naskah kerajaan yang sampai sekarang di wariskan generasi selanjutnya hingga sampai ke Mamiq Udin.
Mamiq Udin menjelaskan kepada kami naskah-naskah dan benda pusaka ini melambangkan empat perkara yang dilambangkan dalam bumi Lombok ini yakni :
1. Bayan, menunjukkan sesuatu Bayangan atau cahaya, yang dalam hal ini merupakan desa Bayan. Dan didalam kitabnya disebutkan Bayanullah.
2. Sileparang artinya apa yang harus kita tuntut/cari maknanya ilmu-ilmu yang harus kita tuntut.
3. Pejanggik, tempat yang melahirkan para pujangga untuk menulis. Para pujangga ini menulis apa yang turun dari Bayan dan apa yang dituntut di sileparang kemudian ditulis dan dijadikan syair.
4. Setelah itu turun lagi ke pujut. Hasil ilmu yang turun dari Allah yang telah dituntut/dicari dan ditulis itu dinyatakan supaya terwujud ilmu yang sebenarnya.
Hal ini disebut “catur mandale kapan carcing gumi Lombok sileparang”. Empat kitab atau naskah ini dalam filosofi makna hakekat dalam tauhidnya orang Lombok. Bayan, Sileparang, Pejanggik dan Pujut.
Salah seorang teman kami kemudian tertarik pada dua keris yang di tunjukkan Mamiq Udin dan menanyakan makna dan nama dari benda pusaka tersebut. Mamiq Udin kemudian menjawab bahwa keris – keris tersebut tidak memiliki nama yang khusus bahkan jika memiliki nama mungkin hanya diberikan oleh pemiliknya sebagai sebutan saja. Akan tetapi, karena sudah sangat lama Mamiq Udin tidak mengetahui sebutan untuk keris tersebut. Pada zaman dahulu hingga sekarang keris merupakan perlengkapan busana adat laki-laki yang dimaknakan “terisaye” artinya untuk memperbaiki atau meneliti diri sendiri, maksudnya sebagai cerminan untuk muhasabah diri.
Karena sebentar lagi memasuki waktu magrib kami terpaksa harus mengakhiri pertemuan ini dan meminta izin untuk pamit. Dan tak lupa sebelum pamit salah satu teman kami meminta Mamiq Udin untuk befoto bersama kami.
Pada hari senin, 21 Oktober 2019 saya bersama teman-teman memulai petualangan untuk memburu naskah kuno. Kami mulai berkumpul sekitar pukul 16.49 WITA di depan gedung kuliah bersama (GKB). Tujuan kami kali ini untuk mencari rumah kediaman Mamiq Udin yang katanya salah satu teman saya beliau memiliki naskah kuno dan benda pusaka. Setelah bertanya ke seorang pedagang jeruk peras yang mengenal Mamiq Udin kami pun berangkat menuju lokasi alamat yang diberikan. Sekitar 20 menit kami akhirnya tiba di kediaman Mamiq Udin tepatnya di Di desa Terong Tawah, Kec. Labuapi. Sesampainya disana kami memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangan kami untuk mencari dan mempelajari naskah-naskah kuno. Mamiq Udin menyambut kami dengan sangat ramah dan senang karena masih ada anak muda yang mau mempelajari budaya.
Mamiq Udin atau Erka Samsudin merupakan seorang pembayun atau penembang yang cukup terkenal. Kita diberikan kesempatan untuk melihat kitab naskah-naskah kuno yang dimilikinya. Mamiq Udin juga langsung mencontohkan kepada kita bagaimana cara membaca naskah kuno tersebut. Beliau membacakan kami naskah “serat centini” dengan nada dan penghayatan yang sangat dalam sehingga membuat kami menyimaknya dengan khusyuk. Tak lupa pula beliau memberitahu kami arti perbait dari naskah yang dibacanya tersebut sehingga kami bisa mengerti naskah yang dibacakan. Serat centini ini berisi nasehat dan pelajaran tentang adab/akhlakul karimah, dan filosofi kehidupan menurut agama islam. Nasehat itu juga langsung ditujukan kepada kami selaku anak muda yang sedang mencari ilmu dan baru memulai menghadapi kerasnya kehidupan. Mamiq Udin membacakan tiga siren dari serat centini tersebut dan kemudian menjelaskan asal usul dan makna yang terkandung dari naskah yang dibacanya itu. Naskah tersebut ditulis dengan bahasa jawa kuno dan erat kaitannya dengan penyebaran ajaran Islam di pulau Lombok. Mamiq Udin hanya menjelaskan 1 kitab yang isinya nasehat atau pelajaran tentang adab, sopan santun, atau akhlakul karimah. Sedangkan kitab yang satunya lagi berisi tentang ilmu-ilmu tasawuf.
Setelah selesai membacakan tiga siren dari serat centini Mamiq Udin kemudian menunjukkan kepada kami dua keris yang merupakan benda pusaka miliknya. Kitab naskah-naskah kuno dan benda pusaka milik Mamiq Udin ini berasal dari benda pusaka kerajaan bayan zaman dulu yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Mamiq Udin sendiri keturunan dalang dan kakek buyutnya keturunan asli sasak yang memiliki berbagai benda pusaka dan naskah-naskah kerajaan yang sampai sekarang di wariskan generasi selanjutnya hingga sampai ke Mamiq Udin.
![]() |
| Kitab naskah-naskah kuno yang sudah dibukukan |
Mamiq Udin menjelaskan kepada kami naskah-naskah dan benda pusaka ini melambangkan empat perkara yang dilambangkan dalam bumi Lombok ini yakni :
1. Bayan, menunjukkan sesuatu Bayangan atau cahaya, yang dalam hal ini merupakan desa Bayan. Dan didalam kitabnya disebutkan Bayanullah.
2. Sileparang artinya apa yang harus kita tuntut/cari maknanya ilmu-ilmu yang harus kita tuntut.
3. Pejanggik, tempat yang melahirkan para pujangga untuk menulis. Para pujangga ini menulis apa yang turun dari Bayan dan apa yang dituntut di sileparang kemudian ditulis dan dijadikan syair.
4. Setelah itu turun lagi ke pujut. Hasil ilmu yang turun dari Allah yang telah dituntut/dicari dan ditulis itu dinyatakan supaya terwujud ilmu yang sebenarnya.
Hal ini disebut “catur mandale kapan carcing gumi Lombok sileparang”. Empat kitab atau naskah ini dalam filosofi makna hakekat dalam tauhidnya orang Lombok. Bayan, Sileparang, Pejanggik dan Pujut.
Salah seorang teman kami kemudian tertarik pada dua keris yang di tunjukkan Mamiq Udin dan menanyakan makna dan nama dari benda pusaka tersebut. Mamiq Udin kemudian menjawab bahwa keris – keris tersebut tidak memiliki nama yang khusus bahkan jika memiliki nama mungkin hanya diberikan oleh pemiliknya sebagai sebutan saja. Akan tetapi, karena sudah sangat lama Mamiq Udin tidak mengetahui sebutan untuk keris tersebut. Pada zaman dahulu hingga sekarang keris merupakan perlengkapan busana adat laki-laki yang dimaknakan “terisaye” artinya untuk memperbaiki atau meneliti diri sendiri, maksudnya sebagai cerminan untuk muhasabah diri.
Karena sebentar lagi memasuki waktu magrib kami terpaksa harus mengakhiri pertemuan ini dan meminta izin untuk pamit. Dan tak lupa sebelum pamit salah satu teman kami meminta Mamiq Udin untuk befoto bersama kami.
![]() |
| Foto Bersama Mamiq Udin |


Gass teruus. Mantap. Lanjutkan
BalasHapusMantap zaa 👍
BalasHapusTerbaik.
BalasHapusSemoga bermanfaat bagi para pencari sejarah nantinya. Terimakasih atas informasinya.
BalasHapusAamiin...
HapusSatu tujuan😁
BalasHapusSemangat
BalasHapusKeren👍👍👍
BalasHapusMantap zaa
BalasHapusSemangat terus mengenali dan mempelajari budayanya ya kak
BalasHapusterusss kembangkaannn👍👍
BalasHapusterusss kembangkaannn👍👍
BalasHapus